Wow! Ternyata Baju Pengantin Ini Pusaka Tradisional Menawan

0
95

Baju pengantin diwariskan turun-menurun selayaknya pusaka, dipakai dalam upacara pernikahan yang akan menambah kesakralan. Ya, baju pengantin adalah pusaka tradisional!

Selain mampu membangkitkan nostalgia, busana pengantin yang diwariskan turun temurun juga menjadi ‘ikatan emosional’ merekatkan makna tradisi dan ikatan kasih keluarga.

Busana pengantin jadi pusat perhatian dalam suatu pernikahan. Begitu pentingnya arti busana yang dikenakan hanya pada saat teristimewa dalam kehidupan seseorang, khususnya pengantin perempuan.

Bukan hanya dilihat dari penampilan pengantin yang indah dan mewah.

Sejatinya, ada makna tersendiri bagi sang mempelai maupun keluarganya, sehingga ada tradisi untuk ‘mewariskan’ busana pengantin kepada anak, keturunan, atau keluarga penerusnya.

Tradisi menggunakan ‘pusaka’ warisan leluhur untuk pengantin telah dilakukan pada dinasti Kraton Yogyakarta. Mengenakan perhiasan warisan turun-temurun kerajaan telah dilakukan sejak masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono VII (1839-1931).

Baca juga Wah! Ini Toh Prosesi Jika Sang Adik Langkahi Sang Kakak

Bisa dikatakan, ini adalah perhiasan ‘keramat’ Keraton Yogyakarta, yang hanya dikenakan pengantin pada prosesi upacara adat panggih, kirab, dan resepsi. Perhiasan keraton yang dikenakan pengantin wanita disebut ‘’Rojo Keputren’’.

Memilih busana pengantin memang jadi hal yang krusial.

Tak heran bila soal busana juga menjadi persoalan pelik bagi calon pengantin. Mengenakan busana ‘lengseran’ keluarga (mungkin busana ibu atau nenek) jangan pernah dipandang sebelah mata. Selain akan menampilkan keanggunan, memelihara tradisi juga tidak ada salahnya.

 

Memelihara Tradisi

Siapa bilang memakai busana pengantin warisan turun-temurun kelihatan kuno dan ketinggalan zaman, di era modern yang serba up-to-date ini?

Buktinya, keluarga besar dari RA Magdalena Defita yang akrab dipanggil Defita ini telah mewariskan busana pengantin adat Palembang dari leluhurnya hingga empat generasi.

‘’Pada saat menikah, saya memakai busana adat Pengantin Palembang Aesan Gede yang umurnya sudah empat generasi, atau sekitar seratus tahun. Saya sangat menikmatinya, ada rasa bangga karena mengenakan pusaka warisan keluarga,’’ ujar Defita yang menikah di Palembang, Maret 2010 silam.

Busana yang dikenakan Defita adalah warisan dari sang ibunda, Nyimas Rodiah Halim, yang menikah pada 1980. Busana itu pula yang juga telah dikenakan nenek dan buyut dari keluarga besar Definta.

Rumit bukanlah menjadi hambatan bagi calon pengantin untuk mengenakan atribut busana pusaka leluhur. Misalnya, calon pengantin tidak boleh melakukan fitting atau mengepas busana yang akan dipakainya. Melainkan ukuran tubuh mempelai yang diukur menggunakan tali, kemudian tali itu dipakai untuk ‘mengepas’ ukuran busana pusaka yang akan dipakainya. ‘’Ini untuk menjaga agar busana maupun perlengkapan perhiasan adat tidak rusak’’ terang Defina.

Ya, bukan perkara sederhana mengenakan busana leluhur yang sudah berumur lebih dari satu abad!

Selain faktor umur kain songket bersulam emas dan perlengkapan perhiasan (yang juga terbuat dari emas) yang sudah satu abad usianya itu perlu berhati-hati cara memakainya.

Dengan demikian, Defina justru bisa belajar memahami bagaimana indahnya karya warisan leluhur yang perlu dihargai dan dijaga kelestariannya.

 

Baju pengantin warisan khas Bugis-Makassar

Baju pengantin yang telah diwariskan turun-menurun selayaknya pusaka, juga dipahami oleh Eva Toisutta, yang menikah tahun lalu dalam tata cara adat Bugis-Makassar.

“Dalam keluarga besar kami yang berasal dari Bugis-Makassar, ada tradisi pengantin memakai perhiasan warisan atau pusaka keluarga. Mulai dari bando, tusuk rambut, kalung hingga gelang tangan yang panjang. Makanya, saya mesti berhati-hati banget untuk memakainya,’’ ungkap Eva, yang bilang kalau perhiasan pusaka keluarga dikenakan untuk acara adat maupun saat resepsi.

Keindahan atribut busana pengantin yang dikenakan secara turun temurun juga dilakukan oleh Karmia Krissanty Tandjung, atau akrab dipanggil Mia. Putri kedua dari ibu Nina Akbar Tandjung yang menikah pada bulan Februari lalu ini mengenakan Sanggul Godhang –yakni topi adat Tapanuli Tengah yang jadi warisan turun temurun dari keluarga Akbar Tandjung –ayah mempelai wanita.

‘’Sudah menjadi tradisi, perhiasan topi atau mahkota adat diwariskan turun temurun untuk peristiwa sakral pernikahan. Usia mahkota Godhang ini sudah cukup tua, sehingga saya perlu mendadani kembali lapisan dalam kainnya, agar terlihat lebih rapi,’’ tutur Nina Tandjung.

Baca juga Yuk! Kenali Kebaya dengan 4 Tip Cara Pakainya

Gerakan mencitai dan melestarikan pusaka warisan leluhur juga telah menyentuh hati Futri Mumtaz, yang menikah tahun lalu. Pada saat menikah, Futri mengenakan busana dan perhiasan adat Lampung Pesisir yang dipesan oleh keluarganya secara khusus.

Oleh karena itu, Futri juga berniat ‘mewariskan’ atribut perhiasan pengantin yang dikenakannya kepada sang adik, yang rencananya akan menikah tahun ini. ‘’Saya ingin menunjukkan cara lain untuk menghargai karya budaya leluhur,’’ ungkap Futri yang menikah dengan Mumtaz.

Melangkah dengan pilihan hati ditemani keluarga dan para sahabat pada hari pernikahan akan terasa lebih sakral. Perasaan bahagia akan semakin membuncah ketika sang pengantin memakai baju ataupun perhiasaan yang menyimpan sejuta kenangan milik orangtua dan leluhur terkasihnya.

 

 

 

 

Gita Carla / Dwi Ani Parwati

Foto: Istimewa, Dok. Mahligai

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here