Ragam Rias Pengantin Gaya Yogyakarta

0
4569
Ragam Rias Penganten
Dok. Mahligai

Keanggunan pengantin terwujud pada tata rias yang memperkuat aura kecantikan sang ratu sehari. Berikut ini ragam rias pengantin gaya Yogyakarta, yakni Yogyakarta Puteri maupun Paes Ageng Jangan Menir.

MALAM MIDODARENI

Ragam Rias Pengantin
Dok. Mahligai

Calon pengantin dirias tipis atau samar-samar, untuk warna disesuaikan dengan warna kebaya, sedangkan gelungnya berbentuk ukel tekuk dengan sunggar serta sasak yang tidak terlalu tinggi.
Rias wajah natural make-up juga cocok dipakai saat menemui tamu siang hari.

Ragam Rias Pengantin
Dok. Mahligai

Riasan simpel namun menarik menjadi kunci penampilan calon pengantin di malam Midodareni. Oleskan concealer di bawah mata, ratakan dengan ujung jari. Menggunakan stick foundation untuk ‘mendempul’ wajah, kemudian ratakan dengan jari tangan. Ratakan bedak tabur ke seluruh rias make up, supaya warna rias merata, terutama di bagian bawah mata, untuk mendapatkan dasar rias wajah sempurna. Menggunakan pensil alis warna cokelat untuk mempertegas garis alis mata.

Hindari pensil alis warna hitam yang akan memberi kesan rias wajah yang ‘judes’.
Sapukan eyeshadow warna cokelat pada kelopak mata, kemudian bingkai mata dengan eyeliner. Bubuhkan perona pipi (blush on) ke arah telinga. Oleskan lipliner untuk mengoreksi bentuk bibir lalu pilih lipstik mengilap warna netral. Sapukan maskara bulu mata atas dan bawah, masing-masing dua kali. Calon pengantin mengenakan busana kebaya dengan model dan warna bebas, namun sebaiknya yang sederhana tanpa menggunakan perhiasan sama sekali. Kain yang dikenakan bisa batik motif Truntum.

PENGANTIN YOGYAKARTA PUTERI

Ragam Rias Pengantin
Dok. Mahligai

Pengantin Yogya Puteri berkebaya pakem menggunakan make-up warna klasik, misalnya cokelat, hitam, dan emas dengan garis eyeliner dan alis bentuk biasa. Menggunakan paes yang diisi dengan pidih warna hitam dengan bentuk cengkorongan paes Yogyakarta Puteri, serta dipasang cithak yang terbuat dari daun sirih yang digunting berbentuk wajik yang diletakkan di dahi, sedikit di atas antara dua alis.

Ragam Rias Pengantin
Dok. Mahligai

Sanggul ukel tekuk dengan sunggar dan lungsen (sambungan) dari rambut depan untuk mengikat sanggul. Bunga untaian melati (roncen usus), ceplok (bunga mawar bahan beludru warna merah) di sanggul dan sepasang jebehan (3 rangkaian mawar bahan beludru warna merah) di kanan kiri yang tampak dari depan, dan sebaran pelik (guntingan kertas putih dengan kelopak empat, yang ditusukkan dengan jarum pentul ke sanggul) menyebar di sanggul. Perhiasan berupa satu buah sisir gunungan, satu buah mentul besar, dan satu pasang subang ceplik.

Busana berupa kebaya beludru panjang tanpa bef atau kutu baru, dengan perhiasan bros 3 susun. Sedangkan jarik (kain batik) yang digunakan adalah dengan corak Sidomukti, Sidoasih, Sidaluhur, Simbar Lintang, Parangkusuma, Semen Rama, Gandasuli, atau Semen Raja.

PENGANTIN YOGYAKARTA PUTERI MODIFIKASI

Ragam Rias Pengantin
Dok. Mahligai

Gaya pengantin Yogyakarta Puteri modifikasi diterapkan melalui penambahan hiasan di sanggul berupa cunduk menthul menjadi tiga buah. Hiasan dahi berupa paes cengkorongan Pengantin Yogyakarta maupun bentuk sanggul tekuk beserta hiasan jebehan dari mawar beludru merah tetap mengikuti tradisi pakemnya.

Ragam Rias Pengantin
Dok. Mahligai

Penampilan modifikasi juga diterapkan pada busana, kebaya pakem beludru hitam berhias benang sulam gym digantikan dengan kebaya modifikasi lace putih panjang hingga bawah lutut, dengan model kerah kutubaru modifikasi. Kain jarik tetap memakai batik motif tradisional pakem. Sesuai tema warnanya, gaya rias pengantin Yogyakarta Puteri modifikasi dengan busana kebaya lace putih seperti ini cocok dikenakan untuk penampilan pengantin saat acara akad nikah.

Untuk riasan wajah, makeup dapat disesuaikan dengan warna kebaya, khususnya pada penerapan palet warna untuk hiasan mata, dapat dapat disesuaikan dengan warna kebaya yang digunakan. Meski demikian, sebaiknya hindari aplikasi warna-warna terlalu soft, khususnya pada aplikasi warna pemulas bibir, karena akan berimbas pada aura penampilan pengantin menjadi ‘pucat’ dan terbanting dengan hiasan paes yang warna hitamnya cukup kuat dan menonjol.

PENGANTIN YOGYAKARTA PAES AGENG JANGAN MENIR

Ragam Rias Pengantin
Dok. Mahligai

Hiasan dahi berupa cengkorongan terdiri atas penunggul, pengapit penitis, dan godeg, di mana seluruhnya diisi dengan pidih kental warna hitam, pada pinggirnya diberi prada (bubuk emas). Bagian pengah paes ditambahkan ornamen dan payet yang terstruktur warna emas. Riasan pengantin Paes Ageng Jangan Menir juga tampak istimewa pada bentuk khusus di mata dan alis.

Rias mata dan alis diawali dengan membuat “jahitan mata” yang bentuknya melingkari mata dan pada ujung luar menyatu, untuk kemudian ditarik kearah pelipis. Dari bentuk dasar itu baru diisi dengan warna lain, disesuaikan warna baju, namun dengan menggunakan garis eyelinner yang tegas, agar seimbang dengan warna paes yang hitam. Lisptik dan blush-on menggunakan warna kuat, dan cenderung menghindari palet warna terlalu lembut atau nude.
Kali ini menggunakan campuran warna maroon, ungu, emas, dan hitam. Sedangkan alisnya berbentuk ‘’menjangan ranggah” –bentuknya dibuat bercabang seperti tanduk rusa.

Ragam Rias Pengantin
Dok. Mahligai

Tatanan rambut tanpa sasak, dibentuk sanggul bokor yang terbuat dari rajut pandan yang diisi dengan potongan daun pandan, kemudian ditutup dengan rambutnya sendiri, dan terakhir dibungkus dengan rajut melati. Rangkaian melati panjang dipasang melingkar di sanggul sisi atas, kemudian dipasang gajah ngolig –berupa rangkaian bunga melati yang panjang, diletakkan di bawah sanggul sedikit agak ke kanan. Tetap menggunakan satu ceplok mawar di tengah sanggul dan jebehan sritaman warna merah kuning dan hijau di kanan kiri sanggul

Perhiasan berupa sepasang centhung secara asimetris di perbatasan dahi dan rambut, sumping pupus daun kates (daun papaya muda) di atas telinga (bisa diganti dengan sumping perhiasan), sisir gunungan yang diletakkan antara sanggul dan kepala, dua buah bros yang diletakkan di kanan kiri ceplok pada sanggul, serta lima buah cunduk menthul di sanggul.

Untuk kebaya, sama dengan model Yogyakarta Puteri, namun kain yang digunakan motif cinde, serta ditambah udet cinde (selendang) yang dibentuk pita ke atas, kemudian ditutup dengan pendhing (ikat pinggang) emas, kemudian dipasang buntal (rangkain daun dan bunga yang berbentuk memanjang) dipasang melingkar di pinggang dan sisa kedua sisi menjutai di depan. Di lengan dipasang kelat bahu, untuk kalung digunakan kalung tiga susun, serta subang bumbungan/ronyok.

PAES AGENG JANGAN MENIR MODIFIKASI

Ragam Rias Pengantin
Dok. Mahligai

Pola riasan Paes Ageng Jangan Menir semula hanya diterapkan bagi pengantin keluarga Keraton Yogyakarta. Seiring perkembangan zaman, riasan pengantin Paes Ageng telah menjadi bagian dari tradisi pernikahan di kalangan masyarakat pada umumnya. Seperti yang berkembang di kalangan masyarakat, terdapat sejumlah penyesuaian dan modifikasi dalam penerapan Paes Ageng Jangan Menir.

Ragam Rias Penganten
Dok. Mahligai

Untuk riasan, bentuk sanggul, maupun perhiasan kepala sebaiknya tetap mengikuti pakem yang ada, kecuali bunga ceplok/jebehan dapat diganti dengan mawar segar. Hiasan sumping daun pepaya muda bisa diganti dengan perhiasan sumping (aksesori yang dipasang di atas daun telinga) dari logam keemasan.

Modifikasi antara lain juga diterapkan pada kebaya menggunakan brokat warna-warni, atau bahan beludru juga tapi dengan model yang sudah dimodifikasi, tanpa ukel cinde, kelat bahu (hiasan pada bahu), slepe/pendhing (ikat pinggang) dan buntal –yakni roncean bunga dan daun pandan yang dililitkan di pinggang. Sedangkan kain jariknya dapat diganti batik dengan corak seperti motif Yogya Puteri, atau motif dan warna batik yang sudah dimodifikasi.

 

Foto: Aldi-Aldivo Photography
Tata Rias Wajah, Paes, & Rambut: Novi Arimuko
Busana Pengantin & Perhiasan: Novi Arimuko
Model: Adila
Teks & Pengarah Gaya: Dwi Ani Parwati

LEAVE A REPLY