Penderita Kanker Serviks Terus Bertambah. Yuk, Deteksi Sejak Dini!

0
55
Penderita Kanker Serviks Terus Bertambah. Yuk, Deteksi Sejak Dini!
Ilustrasi - Freepik

Tahukah Anda bila di Indonesia penyakit kanker mulut Rahim alias kanker serviks adalah jenis kanker yang menempati posisi teratas dalam jumlah penderita? Hingga saat ini, kanker memang belum ditemukan obatanya. Bahkan berdasarkan keterangan dari Organisasi Penanggulangan Kanker Dunia (WHO), penderita kanker di dunia akan mengalami kenaikan sebesar 30% pada tahun 2030. Dan 70%-nya itu terjadi di negara berkembang. Di Indonesia sendiri, jenis kanker yang banyak diderita adalah kanker mulut/ leher rahim atau yang lebih dikenal dengan kanker serviks.

Perbedaan Kanker Serviks dengan Kanker Rahim

Sesuai dengan namanya, kanker leher Rahim adalah tumor ganas yang tumbuh di daerah leher hahim, yaitu suatu daerah pada organ reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk ke arah rahim yang letaknya antara rahim dan liang senggama.

Sedangkan kanker rahim adalah tumor ganas di lapisan rahim (endometrium). Penyebab pastinya belum diketahui, namun dugaan yang ada selama ini adalah kanker rahim disebabkan oleh peningkatan kadar ekstrogen. Umumnya terjadi pada masa monopouse dan paling sering menyerang wanita berusia 50-60 tahun.

Penderitanya

Biasanya, kanker jenis ini dialami wanita yang telah berumur. Namun demikian, tidak tertutup kemungkinan kanker serviks menyerang wanita yang berusia antara 20 – 30 tahun, dengan catatan ia pernah berhubungan seksual. Demikian juga dengan wanita yang perokok, kemungkinan untuk menderita kanker serviks juga sangat besar. Selain itu, melakukan aktifitas seksual terlalu dini serta berganti-ganti pasangan seksual juga memungkinkan untuk terkena kanker serviks.

Faktor Penyebab

Kanker serviks disebabkan oleh HPV (Human Papiloma Virus) yang dipicu oleh beberapa hal seperti kebiasaan merokok. Nikotin yang terkandung di dalam rokok bisa mengakibatkan kanker serviks. Sebab nikotin mempermudah semua selaput lender sel-sel tubuh bereaksi atau menjadi terangsang, baik pada mukos tenggorokan, paru-paru juga serviks.

Terlalu sering mencuci vagina dengan antiseptic tanpa anjuran dokter juga bisa menjadi pemicu. Kebiasaan ini dapat menyebabkan iritasi, yang jika terjadi secara berlebihan akan merangsang perubahan sel pemicu kanker. Namun, bukan berarti pencucian vagina dengan bahan-bahan kimia tidak dianjurkan, akan tetapi penggunaannya harus dilakukan atas anjuran dokter. Dan biasanya juga, pembersih-pembersih tersebut umumnya akan membunuh kuman termasuk kuman basullus doderlain di vagina, yang memproduksi asam laktat untuk mempertahankan pH vagina. Nah, pH yang tidak seimbang di vagina dapat menyebabkan kuman seperti bakteri dan virus dapat tumbuh dengan leluasa hingga menimbulkan penyakit-penyakit lain.

Selain itu, resiko kanker juga bisa diderita oleh wanita yang memiliki kebiasaan makan makanan yang mengandung lemak. Ternyata, lemak bisa menyebabkan kelebihan hormon ekstrogen. Sementara kanker rahim bisa terjadi biasanya karena paparan hormon ekstrogen yang terlalu tinggi.

Sering menaburi vagina dengan bedak. Penaburan bedak di daerah vagina lama-kelamaan akan menimbulkan penumpukan dan pengendapan hingga menjadi benda asing yang bisa menyebabkan rangsangan sel menjadi kanker. Tidak hanya itu, penggunaan pil KB dalam jangka waktu yang panjang serta gangguan system kekebalan tubuh juga bisa menjadi factor penyebab.

Gejala Kanker Serviks

Biasanya gejala kanker serviks baru muncul ketika sel serviks yang abnormal berubah menjadi gejala seperti gangguan menstruasi, pendarahan vagina serta keputihan. Dan jika berkembang lebih lanjut, maka akan timbul gejala-gejala seperti berkurangnya nafsu makan yang disusul dengan penyusutan berat badan, mudah lelah, nyeri di beberapa bagian tubuh, seperti panggul, punggung dan tungkai, keluar air kemih dan tinja dari vagina, serta patah tulang.

Deteksi Sejak Dini

Tes Pap Smear sendiri sudah dipakai bertahun-tahun untuk mendeteksi kelainan yang terjadi pada sel-sel leher rahim. Selain aman, tes ini juga tergolong murah dan hanya membutuhkan waktu singkat. Bisa dilakukan di dokter umum maupun klinik Keluarga Berencana (KB) yang kemudian dibawa ke laboratorium untuk dicek.

Nah, untuk melakukan pemeriksaan ini sebaiknya seminggu atau dua minggu setelah masa menstruasi. Sedangkan bagi mereka yang sudah menopause, tes ini dapat dilakukan kapan saja. Sementara mereka yang mulut Rahim maupun rahimnya diangkat tak perlu khawatirkan penyakit kanker serviks, karena secara otomatis mereka telah bebas dari penyakit tersebut.

Pemeriksaan pap smear ini sendiri alangkah baiknya bila dilakukan secara rutin, 2 tahun sekali misalnya. Selain pap smear, metode lain yang dapat pula dilakukan untuk mendeteksi adanya sel normal adalah IVA (Inspeksi Visual dengan asam asetat). Metode ini memiliki keakuratan yang sama dengan metode pap smear. Hasilnya pun dapat langsung diperoleh pasien.

Pengobatan

Tentunya ada pula perubahan sel dapat diketahui sedini mungkin, tindakan pengobatan dapat dilakukan secepatnya. Dan umumnya, pengobatan yang dilakukan bisa melakukan pemanasan dengan laser, pemeriksaan cone biopsy untuk pemeriksaan lebih teliti sel-sel yang mengalami perubahan.

Apabila penyakit telah sampai pada tahap pre kanker dan kanker leher Rahim telah terdeteksifikasi, maka untuk menyembuhkannya ada beberapa langkah yang dapat dipilih, yaitu operasi dengan mengambil daerah yang terserang kanker. Biasanya uterus beserta leher rahimnya atau menjalankan radioterapi dengan menggunakan sinar berkekuatan tinggi yang dapat dilakukan secara internal maupun eksternal.

Teks. Tim Mahligai Indonesia

LEAVE A REPLY