Menikmati Kreasi Ramah Lingkungan Para Desainer via Eco Fashion Week Indonesia 2018

0
54
Foto: EFWI 2018

Kebanyakan dari kita hanya tahu ‘Oh, karya desainer itu bagus’, tapi sering lupa kalau bahan yang dipakai atau proses pengolahan bahannya apakah ramah lingkungan atau tidak. Eco Fashion Week Indonesia 2018 hadir untuk itu.

Istilah eco fashion sendiri memang masih asing di telinga. Padahal semangat melestarikan lingkungan dan bumi pun bisa dilakukan lewat koleksi-koleksi pakaian yang kita pakai.

Foto: EFWI 2018

Awalnya Eco fashion atau fashion ramah lingkungan digagas para praktisi fashion di kota Seattle dan Vancouver, Washington, Amerika. Sebenarnya sudah lama happening di beberapa negara di dunia. Maklum, industri fashion adalah penyumbang polusi dan pencemaran bumi terbesar kedua setelah industri minyak!

Fakta ini menggelitik desainer busana, Merdi Sihombing. Indonesia dengan kekayaan budaya, khususnya yang berkaitan dengan fashion, seharusnya bisa menjadi pusat eco fashion di dunia.  Untuk memasyarakatkan gerakan eco fashion ke negeri nusantara ini, maka digelarkah Eco Fashion Week Indonesia (EFWI) 2018, selama tiga hari dari 30 November hingga 2 Desember 2018.

Tak hanya desain baju perempuan saja, baju laki-laki dengan bahan ramah lingkungan pun disajikan | Foto: dok. Mahligai Indonesia

Pagelaran ini mengusung  tema Rethinking Fashion System, diadakan di Gedung Stovia, Jakarta. Dengan lengkap, EFWI 2018 kurang-lebih menampilkan karya dari 30 desainer dalam dan luar negeri yang telah menerapkan konsep yang aman bagi lingkungan dan ethical production-nya.

Foto: EFWI 2018

Baik pemilihan materi dari bahan organik ataupun serat alam, sistem pewarnaan, hingga pada proses pembuatan yang keseluruhannya mampu meminimalkan jejak karbon atau pencemaran. Tak lupa pemberdayaan penduduk sekitar atau lokal yang selama ini masih tersisihkan dan tidak mendapatkan kompensasi yang memadai.

Foto: dok. Mahligai Indonesia

Salah satu pagelaran busana dari bahan ramah lingkungan yang digelar adalah “New Faces”, menggunakan serat Tencel dari produsen serat asal Austria Lenzing Group.

Asal tahu saja,”Serat Tencel terbuat dari serat kayu bersertifikasi dari kawasan yang sudah diawasi dan dipastikan tidak akan mengganggu lingkungan. Serat kayu jenis pinus yang menjadi fiber bahan benang tekstil ini punya sifat mudah terurai,” jelas Mariam Tania, Marketing & Branding Manager Asia Tenggara PT South Pacific Viscose.

Merdi Sihombing dan para line up designer artisan yang berpartisipasi | Foto: dok. Mahligai Indonesia

Tencel sendiri bekerjasama dengan 15 perancang muda, menampilkan desain pakaian kasual untuk wanita dan pria, busana bertema batik, dan desain haute couture.

Oh ya, masih ada tema “Nomadic Look” karya desainer Merdi Sihombing dengan desain busana dari kain tenun  sejumlah daerah tertinggal. Seperti, tenun kelompok ibu-ibu di pedesaan Pulau Alor,  Pulau Atol, dan Pulau Palung, Nusa Tenggara Timur.  Tentu saja ada sejumlah desainer ternama lain yang juga turut berperan dalam  menampilkan karyanya pada perhelatan ini antara lain Ghea Panggabean, Didi Budiardjo, Ferry Sunarto, Malawian Designers dan Patti DeSante dari Kanada.

 

 

Teks: Dwi Ani Parwati

Editor: Orlando

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here