Indonesia Fashion Week 2017, Perayaan Budaya Mode

0
365
Indonesia Fashion Week
Dok. IFW 2017

Pusat perhatian kalangan pecinta mode dan fesyen pekan ini tercurah pada Indonesia Fashion Week 2017. Ajang fesyen bertema ‘’Celebrations of Culture’’ ini berlangsung sejak 1 hingga 5 Februari 2017. Pekan mode terbesar di Indonesia yang berlangsung di Jakarta Convention Center merupakan upaya berkesinambungan Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) dalam mendukung dan mempromosikan budaya Indonesia dengan mengemas potensi industri busana lokal secara lebih modern sebagai tuan rumah di negeri sendiri maupun bisa berkiprah menembus kancah internasional.

Selama lima hari, panggung pagelaran busana dimeriahkan oleh ratusan pelaku bisnis fesyen dan perancang dari berbagai penjuru nusantara. Rangkaian acara berupa lebih dari 20 peragaan busana yang melibatkan 200 dan brand, 10 seminar, kompetisi dan lokakarya, 10 talk show serta  memamerkan ratusan merek lokal.

Poppy Dharsono selaku Presiden IFW 2017 meresmikan pembukaan yang berlangsung meriah dengan penampilan pagelaran busana dari puluhan desainer yang turut berkolaborasi selama lima hari ajang pameran dan pagelaran busana.

Suasasana ‘nusantara’ begitu kental sesuai tema IFW tahun ini yang mengusung kultur khas Indonesia, melalui penggunaan bahan baku seperti tenun, songket, ikat, dan batik dari berbagai daerah di Indonesia yang diwujudkan pada desain busana, maupun dipalikasikan sebagai motif yang menginspirasi detail pada busana seperti bordir maupun sulam.

Pagelaran bertajuk Tenoen Etnik yang didukung oleh Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) menghadirkan karya busana enam desainer ternama, antara lain dengan mengusung kain ulos khas Batak-Sumatera Utara, tenun Nusa Tenggara Timur, dan tenun Donggala-Sulawesi Tengah. Adalah Ida Royani, Jenahara, Torang Sitorus, Jeny Tjahyawati, Anne Rufaidah, dan Nieta Handayani memamerkan karyanya pada pagelaran ini.

Dengan mengusung tema Etnik Indonesia, sembilan desainer yakni Tyramona, Owens Joe, Artina, Julietteafrt, Sao by Risza, Amir Malik, S,Diono, dan May Myat Waso menampilkan koleksi desain terbaru mereka, antara lain menggunakan bahan dan aplikasi kain daerah seperti batik dan tenun dalam desain busana kasual dan berkonsep ready to wear. Brand WARNATASKU berkolaborasi dengan tujuh desainer menampilkan tenun Maumere pada sederet koleksi busana dipadukan dengan tampilan tas berkonsep etnik kekinian.

Selain kain tenun, IFW 2017 juga menyajikan bordir dimodernisasi disebut Kerancang Gunting diproduksi oleh perajin di Kudus, Jawa Tengah, serta pengrajin busana kerajinan dari Jawa Timur Banyuwangi dan Bali Gianyar, serta detail sulam Karawo yang khas dari Gorontalo. Busana muslim pun juga menampilkan inspirasi dari pakaian tradisional Untuk busana muslim, para desainer memperkenalkan pakaian tradisional perempuan dari Bengkulu, yang dikenal sebagai kuluk.

 

Teks: Dwi Ani Parwati
Foto: Dok. IFW 2017

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here