Inspirasi Negeri Anging Mamiri dalam Koleksi Terbaru Mel Ahyar

0
54
Koleksi Happa by Mel Ahyar
Dok. JFFF 2018

Keindahan pluralisme di Negeri Anging Mamiri – Makassar menjadi gagasan utama koleksi terbaru Happa by Mel Ahyar. Melalui koleksi bertajuk Tapak Renta yang ditampilkan pada ajang Jakarta Fashion and Food Festival 2018, desainer alumni ESMOD Jakarta ini ingin membawa pesan persatuan di tengah hiruk pikuk isu individualisme.

Mel Ahyar terinspirasi dari tarian empat etnis yang berasal dari Makassar. Tari empat etnis ini menggabungkan keempat tari yang berasal dari empat suku di Makassar yakni Bugis, Makassar, Toraja, dan Mandar. Seperti halnya individu dengan tiap karakternya, tari empat etnis ini memiliki filosofi sendiri.

Tari pakarena yang berasal dari Makassar misalnya, mencerminkan karakter perempuan gowa yang sopan, lembut setia dan patuh. Sedangkan tari pajoge dari Bugis dan tari pa’tuddu dari Mandar kerap dipakai sebagai tari sambutan untuk para pendatang. Terakhir, tari pa’gellu dari Toraja merupakan tari hiburan dan simbol ungkapan rasa syukur atas kebahagiaan yang didapat.

Koleksi Happa by Mel Ahyar
Dok. JFFF 2018

Tarian empat etnis yang indah dan berwarna ini nampak pada koleksi dengan penggunaan warna-warna cerah seperti orange, kuning, tosca, dan biru yang ditampilkan. Warna-warna earthy turut hadir untuk memperlihatkan karakter wanita penari yang rendah hati dan lemah lembut.

Siluet melambai jatuh dan cutting asimetris yang dinamis menjadi daya tarik pada koleksi kali ini. Penggunaan siluet tersebut merupakan cerminan dari karakter ramah seperti halnya fungsi penyambutan tamu pada tari pajoge dan tari pa’tuddu.

Tanpa meninggalkan ciri khas koleksi Happa, Mel Ahyar menampilkan print atribut penari dan tari-tarian yang cantik sebagai identitas. Print malang melintang dibuat untuk menggambarkan empat sisi yang saling bertemu.

Seperti halnya ciri khas kolekis Happa yang kerap mengangkat wastra Indonesia, koleksi Tapak Renta pun menghadirkan wastra Makassar seperti tenun Makassar Pak duredure serta kain lagosi. Penggunaan Wastra Makassar ini tentu bertujuan untuk mengangkat hasil budaya masyarakat itu sendiri. Meskipun demikian teknik modern tetap dihadirkan melalui statement bordir dan beading yang menggantung.(*)

Foto. Dokumentasi JFFF 2018
Teks. Intan Widiastuti

LEAVE A REPLY