Berjalan Bareng Nadya Hutagalung lewat “Walk with Me”

0
23
Foto: Davy Linggar

Figur selebriti memiliki perjalanan panjang yang selalu akan menjadi memorable. Sama halnya dengan Nadya Hutagalung. “Walk with Me” menjadi poin memorable tersebut.

Ya, paling menyenangkan jika kita membuat rekaman perjalanan hidup – dalam hal ini karir dalam lembaran kertas via sebuah buku. Tentu saja bukan buku biasa, tapi sebuah narasi personal yang benar-benar personal. Saking personalnya narasi tersebut terasa begitu hangat.

Dan sosok personal tersebut adalah seorang Nadya Hutagalung.

Walk with Me adalah narasi personal tersebut. Sebuah buku yang menampilkan tujuh bagian yang dengan elegan merepresentasikannya via berbagai elemen kehidupan. Tujuh elemen tersebut adalah Bamboo, Spice, Seeds, Mist, Mirror, Ocean dan Soil. Tujuh elemen ini menjadi sematan gambaran kisah perjalanan karir Nadya selama 30 tahun.

Foto: Davy Linggar

Format coffee table book pun diambil. Dengan menyeruput segelas kopi favorit kamu, baik perjalanan karir, kehidupan personal dan perspektifnya saat menjalani kehidupan, kamu bisa menyelami sosok Nadya.

Meski terasa personal, Walk with Me digambarkan sebagai selebrasi perjalanan hidup Nadya. Dimulai dari karir sebagai model hingga akhirnya terlibat dalam aktifitas di dunia lingkungan. Tak kurang ada tiga dekade yang disorot publik, tapi juga ia tetap bisa terjaga dalam kehidupan pribadinya.

Kilasan hangat seberapa personalnya Nadya pun bisa dinikmati dalam buku ini. Kamu bisa melihat sekilas hubungan Nadya dengan suami dan anak-anaknya, dengan kedua orang tuanya dan kedekatannya dengan beberapa sahabat dekat. “Saya bersyukur atas berbagai fase kehidupan yang pernah saya alami dan bertemu beragam pribadi. Tahap-tahap itu memberikan banyak pelajaran berharga,” ujar Nadya.

Foto: Davy Linggar

Tentu saja, lembaran demi lembaran Walk with Me bicara banyak lewat foto-foto yang digelar. Jepretan demi jepretan foto yang ada adalah kreasi Davy Linggar. Menariknya, kesemua jepretannya diambil dari berbagai tempat. Dari Jakarta, Ubud, Singapura, Medan, Nepal sampai Kenya.

Lalu kenapa Nadya begitu berani menerbitkan sebuah buku?

“Setiap pribadi memiliki kisah untuk diceritakan. Dan yang saya tahu, kita bisa belajar dari pengalaman orang lain, belajar berempati pada pengalaman tersebut, meski pengalaman tersebut jauh dari kehidupan dan latar kita sendiri,” jelas Nadya.

Yuk, jalan bersama Nadya…

 

Penulis: Orlando

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here