Primadona Kain Tenun Ikat dari Tanimbar, Maluku Tenggara Barat

0
313
Tenun Tanimbar - Kriyanusa
Desainer dan koleksi busana Tenun Tanimbar

Keindahan dan keragaman kain tenun ikat dari sejumlah daerah menjadi primadona dalam parade busana yang berlangsung di Pameran Kerajinan Nusantara Kriyanusa. Salah satu daerah yang memiliki keunikan dan keragaman motif adalah kain tenun ikat dari Tanimar, Kabupaten Maluku Tenggara Barat. Ragam motif dari kain tenun ikat Tanimar yang sangat khas dengan bentuk-bentuk geometris dan garis-garis  dengan palet warna kontras tersebut diwujudkan dalam busana karya delapan perancang busana.

Parade busana menggunakan bahan utama dari kain tenun ikat Tanimbar tersebut diprakarsai oleh Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Maluku Tenggara Barat. Selain bertujuan mengenalkan indahnya motif-motif kain tenun Tanimbar, juga untuk lebih memasyarakatkan penggunaan kain tenun daerah menjadi busana yang fashionable dan disukai oleh kalangan muda. Itulah kiranya, selain menggunakan tenun ikat Tanimbar, para desainer mewujudkan rancangan mereka dengan memadukan ikat Tanimbar dan material kain lainnya seperti denim, lurik, hingga batik.

Delapan desainer yang turut ambil bagian dalam parade busana tenun Tanimbar adalah Samuel Watimena, Dhedy Rizaldi, Dimas Mahendra, ERRE by Reny Anggraini, Wieke Dwi Harti, Aji Suropati, Ray Alan, dan Plog Tong by Gugus Riyono. Setiap desainer menampilkan empat koleksinya.

Ragam Rancangan Koleksi

Desainer senior Samuel Wattimena menghadirkan empat buah busana pria yang berpotongan serupa jaket tanpa kancing. Untuk rancangan ini Samuel memadukan kain tenun ikat Tanimbar dengan lurik dan batik dengan look kasual dan bisa dipakai sehari-hari. Sementara Dimas Mahendra menampilkan empat koleksnya dengan mengambil konsep busana bersilet longgar dengan meminimalkan pemotongan kain tenun Tanimbar.

‘’Setiap lembar kain-kain tenun ikat itu sendiri memiliki motif yang bagus dan seperti saling menyambung. Saya kembali mengenalkan baju-baju dengan sedikit jahitan dan guntingan, namun tampil indah,’’ ungkap Dimas yang memadukan tenun ikat Tanimbar dengan material raw silk polos warna-warni kontras.

Konsep tumpuk dengan drapery berpotongan asimetris menjadi koleksi andalan desainer Wieke Dwi Harti. Siluet longgar ini diwujudkan pada busana atasan dan bawahan berupa rok asimetris sehingga terkesan edgy dan eksotis. Perancang Dhedi Rizaldy menghadirkan koleksi busana pria berupa celana panjang kacual dengan padanan kemeja dan imbuhan selendang dari kain tenun Tanimar yang melilit di pundak. Ray Alan dalam rancangannya memberi pilihan model two pieces berupa atasan, rok, rok, kulot, maupun jumpsuit yang cocok untuk suasana santai dan kasual.

Teks: Dwi Ani Parwati

Foto: Agung Hadiawan

 

 

LEAVE A REPLY