Kerennya Sajian Rumah Batik dan Tenun Indonesia dengan Karya ‘Emak-Emak’ Pengrajin Tuban dan Ende

0
29

Keren! Itulah kata yang layak disemat saat Rumah Batik dan Tenun Indonesia via Eco Fashion Week Indonesia (EFWI) 2018 menggelar karya tenun dan batik dari para ibu alias emak-emak nusantara.

Keindahan  selembar kain tenun ataupun batik tulis tak lepas dari buah karya jari-jemari lincah para perempuan nusantara alias ‘emak-emak’ pengrajin di pelosok daerah.

Ya, faktanya di balik keindahan wastra, masih ada kisah kehidupan sosial ekonomi para penenun maupun pembatik yang berada di bawah garis kemiskinan.

Langkah nyata pun diambil dengan diluncurkannya Rumah Batik dan Tenun Indonesia yang dibidani BAZNAS –Badan Amil Zakat Nasional. Ini langkah konkrit guna mengangkat dan memperbaiki kesenjangan ekonomi para pengrajin beberapa daerah. Kain wastra indah karya mereka sendiri memang layak dipamerkan.

“Rumah Batik dan Tenun Indonesia menjadi marketing board bagi program-program pemberdayaan kain berbasis dana zakat, infak dan sedekah yang dilaksanakan oleh BAZNAS,” demikian Direktur Pendistribusian dan Pendayagunaan BAZNAS, Mohd. Nasir Tajang.

Program Zakat Community Development membuat langkah konkrit lainnya dengan mengembangkan kain tradisional di tiga wilayah yakni batik di Tuban, Jawa Timur, kain tenun di Ende NTT dan songket di Sambas, Kalimantan Barat bekerjasama dengan Sahabat Pulau. Program pemberdayaan ini meliputi bantuan dan pendampingan pada tiga aspek penting usaha yakni modal, produksi dan pemasaran.

Baca juga: Menikmati Kreasi Ramah Lingkungan Para Desainer via Eco Fashion Week Indonesia 2018

Ende sendiri daerah wisata yang terkenal dengan tenunnya,  tetapi hingga saat ini masih banyak para perempuan pembuat tenun yang hidupnya berada dibawah garis kemiskinan. Untuk itu BAZNAS barengan komunitas Sahabat Pulau Indonesia mencoba menginisiasi  program pemberdayaan untuk emak-emak pengrajin tenun di salah satu desa wilayah Ende, yaitu desa Mbuliloo.

Selama beberapa bulan dilakukan pembinaan, pengrajin tenun maupun batik diperkenalkan penggunaan benang khusus dan tema khusus sesuai permintaan konsumen. Dan motif kain pun sedikit dimodifikasi sehingga lebih trendi.

Yang spesial, pewarna alam yang digunakan seperti kunyit, indigo dan kulit kayu membuatnya memiliki nilai lebih dalam khasanah fashion tradisional.

Persis program pemberdayaan di Tuban, Jawa Timur, pemberdayaan diberikan ke emak-emak pengrajin batik cap dengan penghasilan maksimal 30 ribu rupiah sehari. Untuk itu, BAZNAS mendorong mereka lebih mandiri dan meningkatkan penghsailan dengan melakukan pelatihan membatik tulis dengan canting, pelatihan pengenalan motif dan membuat pola, pelatihan pembuatan pewarna alam dari tanaman indigo dan tingi, serta pengenalan motif batik khas Sumurgung.

Sebanyak 20 kain karya perajin dari Tuban dan Ende binaan BAZNAS ditampilkan para model profesional dalam sesi fashion show di EFWI 2018. Keikutsertaan produk-produk ini jadi salah satu upaya untuk mengangkat karya para pengrajin daerah ke level pemasaran nasional, bahkan internasional.

 

 

Teks: Dwi Ani Parwati

Editor: Orlando

Foto: EFWI 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here