Tiga Desainer Muda Meriahkan Pembukaan Fashion Festival JFFF 2018

0
57
JFFF 2018

Bagi para pecinta mode tanah air acara Fashion Festival dalam rangkaian acara Jakarta Fashion and Food Festival (JFFF 2018) tentu menjadi momen yang dinanti. Dalam acara Fashion Festival ini para pengunjung dapat menyaksikan kreativitas dan inovasi terkini para desainer Tanah Air melalui koleksi busana yang dipresentasikan.

Tahun ini, Fashion Festival JFFF kembali memberi tempat kepada desainer muda berbakat tanah air untuk menampilkan koleksi  terbaik mereka dalam acara show pembuka. Bertempat di Ballroom Harris Hotel & Conventions, opening show Fashion Festival malam itu kian meriah dengan hadirnya tiga desainer muda tanah air yakni, Albert Yanuar, Patrick Owem, dan Yosafat Dwi Kurniawan. Dalam satu benang merah bertajuk On fleek, ketiga desainer ini menampilkan kreasi terbaik mereka di hadapan awak media dan tamu undangan.

On Fleek yang bermakna tepat sasaran merupakan salah satu istilah kekinian di kalangan millennial mancanegara. Cut Meutia, Deputy Chairman JFFF menjelaskan, “Dalam konteks JFFF, makna On Fleek diartikan agar para milenial selalu tepat sasaran untuk eksistensinya dalam berkreasi, berinovasi, berkontribusi, serta berpartisipasi aktif dalam memajukan industri kreatif berbasis budaya Tanah Air.”

Inspirasi Kekaisaran Tiongok oleh Albert Yanuar

Albert Yanuar membawakan koleksi bertema “Cruise to a Dynasty” yang terinspirasi dari kostum keluarga Kekaisaran Tiongkok di musim gugur. Inspirasi tersebut pun tercermin melalui dua motif khas negeri Tiongkok yakni, motif burung phoenix dan naga yang mendominasi koleksi desainer lulusan Esmod ini. Kesan mewah amat terasa tatkala teknik bordir emas diciptakan di atas warna dasar seperti Biru Royal, Biru Tua dan Hitam. Penggunaan bahan halus seperti tulle, organza dan duchess pada setiap koleksi yang ditampilkan pun semakin menghadirkan kesan elegan.

Padu Padan Modern dan Tradisional oleh Patric Owen

Desainer muda Patrick Owen menampilkan koleksi bertajuk RE : Mata yang terinspirasi dari perpaduan memukau antara nilai-nilai tradisional dan modern. Warna-warna cerah khas mainan lego seperti biru, kuning dan merah hadir dengan cara sporty dan menyatu sempurna dengan motif batik khas Jawa. Dalam sebuah kolaborasi dengan seniman Indonesia, Darbotz, motif batik ditafsir ulang secara serentak ke digital printing pada serat alam juga sulaman tradisional.

Seni Minimalis dalam Koleksi Yosafat Dwi Kurniawan

Yosafat Dwi Kurniawan menampilkan koleksi bertema Literalist – Fall 2018. Terinspirasi dari gerakan seni minimalis di awal tahun 60-an, masa ketika seniman seringkali digambarkan sebagai literalis karena mereka menciptakan karya yang menghindari makna, ilusi, dan bahkan interpretasi. Seperti halnya karya seni minimalis, pengulangan penting dalam mendefinisikan konstruksi banyak garmen dalam koleksi ini. Penggunaan potongan dan panel yang berulang menciptakan suatu volume seiring dengan gerakan di dalam garmen.(*)

Foto dok. JFFF 2018

LEAVE A REPLY