Menelusuri Desa Adat Panglipura, Bangli, Bali

0
423
foto: Very Barus

Desa Panglipura merupakan salah satu desa adat yang masih kental dengan adat istiadatnya. Bahkan desa ini sangat menjaga warisan leluhur mereka dengan memegang teguh semua peraturan dan larangan-larangan yang berlaku pada desa tersebut.

Sungguh adem rasanya berada di desa Panglipura ini. Jauh dari hiruk pikuk Bali yang sudah begitu terkontaminasi dengan modernisasi. Di desa ini Anda masih bisa merasakan ketenangan, keramahan dan juga keakraban antar penduduk. Desa ini juga menjadi desa ramah lingkungan. Karena desa ini tidak mengizinkan kendaraan masuk ke dalam desa ini. Seperti motor dan mobil hanya diizinkan berhenti di parkiran yang sudah disediakan cukup luas. Jika ingin masuk ke desa ini cukup berjalan kaki saja.

Penataan fisik bangunan dan pola penataan kawasan di Desa Penglipuran sangat kental dengan budaya Bali yang tetap dipegang teguh oleh masyarakatnya. Budaya yang berlaku turun temurun. Nuansa tradisional Bali sangat terasa. Terdapat jalan utama yang membelah desa dengan deretan gerbang/pintu masuk menuju rumah-rumah.

Pintu masuk ke tiap rumah didesain dengan bentuk yang sama, biasa disebut angko-angko. Pintu sengaja dibuat tidak terlalu lebar dengan maksud agar tidak dapat dilalui oleh motor. Tiap gerbang ditempeli tulisan keterangan tentang nama pemilik rumah dan anggota keluarga.

foto: Very Barus

Penduduk desa Palingpura penganut falsafah. Sebuah falsafah dalam agama hindu yang selalu menjaga keharmonisan hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan lingkungan dan manusia dengan sang Pencipta.

Jadi penduduk desa ini sangat menjaga warisan dari nenek moyang mereka secara turun temurun. Khususnya dalam membangun desa ini. Lihat saja semua bangunan tampak seragam dan saling berhadap-hadapan. Masing-masing rumah hanya dipisahkan oleh jalan utama desa.

Begitu juga dengan penduduknya, semua hidup saling gotong royong untuk menciptakan desa ini tampak selalu bersih dan aman. Sejak masuk ke lingkungan desa ini, Anda akan  terpaku dengan kebersihan desa ini. Karena setiap warga di desa ini sudah diterapkan soal kebersihan. Wajar kalau hampir setiap tahun desa ini mendapat penghargaan sebagai desa terbersih dari beberapa desa yang ikut berlomba.

Bamboo Forest

foto: Very Barus

Salah satu lokasi yang wajib dikunjungi saat ke desa ini adalah hutan bambunya. Hutan bambu ini  memiliki luas 45 hektar dan juga memiliki bermacam-macam jenis bambu. Hutan bambu ini sudah ada sejak desa ini dibangun. Bahkan sebagian dari bahan untuk mendirikan rumah-rumah di desa ini diambil dari hutan bambu tersebut.

Karang Memadu
Selain Bamboo forest, ada satu tempat yang cukup menyita perhatian yaitu Karang Memadu.

Karang Memadu itu tempat yang disediakan warga untuk warganya yang ingin menikah lagi. Kalau seorang suami menikah lagi maka dia akan keluar dari kampung ini dan pindah ke sebelah sana (Karang Memadu).

Di sini tidak ada larangan untuk menikah lagi. Tapi, bagi warga laki-laki yang berniat akan menikah lagi, dia harus siap meninggalkan keluarganya dan tinggal di  tempat Karang Memadu yang sudah disediakan warga.

Selain itu, mereka yang nekat memadu istrinya, dia juga siap dikucilkan penduduk disini. Ada hukum adat yang harus dterima. Tidak boleh ikut sembah yang bersama-sama. jadi pria yang nekat memadu, maka istri madu dan anak dari yang dimadunya juga akan mendapat sanksi, kalau ada upacara adat dia tidak boleh berbaur dengan warga setempat.

Karena begitu berat sanksi yang akan diterima bagi pria yang hendak memadu istrinya, sampai saat ini lokasi Karang Memadu masih kosong tidak berpenghuni. Ya, mungkin para lelaki yang ingin menikah lagi pasti akan mikir panjang jika sepanjang hidupnya tinggal di desa tersebut terus dikucilkan.

panglipura2

Dari hasil kegiatan parawisata, dan kunjungan para turis-turis, desa ini mampu membiayai sendiri hampir semua kegiatan karangtaruna dan kegiatan upacara adat lainnya.  Salah satu pemasukan desa ini selain bertani adalah, tiket masuk pengunjung yang ingin berkunjung ke desa ini.

Untuk turis lokal dikenakan biaya Rp. 15.000,- untuk dewasa, dan anak-anak Rp.10.000 sedangkan turis asing dikenakan biaya Rp.30.000,-  untuk turis dewasa dan anak-anak Rp.25.000,- uang tersebut masuk ke dalam kas desa ini untuk dipergunakan kembali pada keperluan desa ini juga.

Very Barus | TR

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here